Teknologi Pertanian Pintar Dikembangkan untuk Tekan Biaya Produksi

Teknologi-Pertanian-Pintar-Dikembangkan-untuk-Tekan-Biaya-Produksi

Teknologi pertanian pintar diharapkan dapat membantu para petani di Jepang menghasilkan padi dengan harga murah. Dengan bantuan teknologi pertanian pintar memungkinkan biaya produksi menjadi lebih rendah serta menjadi solusi kurangnya jumlah tenaga kerja pertanian.

Teknologi baru, termasuk drone penyemprot tanaman dengan pupuk atau pestisida dan mesin tanam padi yang dilengkapi GPS, berpotensi menurunkan harga pangan di pasaran. Teknologi pertanian pintar diharapkan akan membantu bisnis pertanian di Jepang.

Tanaka Nojo, sebuah perusahaan pertanian padi di Prefektur Tottori barat Jepang, berencana memperkenalkan pertanian pintar pada musim tanam tahun ini. Mereka telah membeli drone penyemprot bahan kimia dan alat penanam padi yang dilengkapi GPS sehingga memungkinkan menanam bibit di sawah secara otomatis.

Presiden Perusahaan Tanaka Nojo, Satoshi Tanaka, menjelaskan teknologi baru tersebut dapat membuat proses produksi menjadi lebih efisien dan meningkatkan produktivitas pertanian.

“Kami akan dapat memotong biaya produksi hingga 10%,” klaimnya.

Sementara itu, Fukuhara Farm di Prefektur Shiga Jepang tengah, memperkenalkan pencangkokan beras otomatis pada musim semi tahun lalu. Teknologi ini untuk mengurangi biaya tenaga kerja dan meningkatkan produksi varietas padi murah yang disukai pengusaha restoran.

“Hanya masalah waktu sebelum harga untuk 60 kg beras turun di bawah 10.000 yen (sekitar Rp 1.417.679),” kata Ketua Pertanian Fukuhara Shoichi Fukuhara.

Pada tahun fiskal 2019, Kementerian Pertanian Jepang meluncurkan proyek uji coba pertanian pintar pertama dalam penanaman padi. Kementerian Pertanian akan mempelajari efektivitas teknik baru tersebut dan besaran penurunan biaya produksi. Diperkirakan pertanian pintar dapat memangkas jam kerja untuk budidaya padi menjadi setengahnya dengan peningkatan hasil panen sebesar 10%-20%.

Peralatan pertanian canggih yang memiliki harga antara 10%-50% lebih tinggi dibanding harga peralatan pertanian konvensional mungkin menjadi tantangan. Namun, dengan semakin banyaknya petani menggunakan mesin teknologi tinggi diharapkan dapat mengatasi kendala tersebut.

Para petani di Jepang diharapkan dapat menghasilkan produk dengan harga yang lebih kompetitif. Pasalnya, harga padi di dalam negeri masih jauh lebih tinggi daripada harga di pasar dunia.

Akibatnya, para petani menghadapi tantangan yaitu industri kuliner yang membeli beras impor karena harganya lebih murah dibanding beras lokal yang lebih mahal.

Write a comment